Hudzaifa Septi Intani

Ketika pikiran manusia tertulis dalam sebuah blog

Jakarta’s Night Life 24 Juli 2009

Filed under: Cerpen Islami — hudzaiefha_ciphty @ 12:40 pm
Tags: , ,

Dibayangkan oleh : Ruli Amirullah

HARI INI, pukul 2.30 dinihari

Suasana disebuah sudut Jakarta

Ratusan orang berkumpul di ruang gelap

Terdengar dentuman musik yang memekakkan telinga

Yang wanita memakai baju minim, bahkan nyaris seperti tidak memakai baju akibat begitu ketatnya dengan kulit.. Yang pria tidak kalah ingin menarik perhatian, menggunakan baju dengan design terbaru agar bisa menarik perhatian kaum hawa….

Kulit mereka bersentuhan, dikarenakan begitu banyaknya orang yang berkumpul, tapi beberapa sengaja merapatkan diri, walau hawa terasa hangat dan menjadikan tubuh berkeringat..

Suasana penuh, tapi justru mereka menikmatinya..

Ketika terasa haus, Mereka memesan berbagai minuman..

Semua minuman tersebut terasa membakar di mulut, dan membuat tubuh terasa panas, but they like it, dan terus minum…. Sampai nyaris hilang kesadaran…

Minuman yang tidak menghilangkan haus, dan mereka terus mereguknya

Ketika suara musik semakin bergemuruh, tangan-tangan mengacung keatas sambil berteriak, menikmati setiap dentuman yang ada

Malam yang dingin menjadi terasa hangat..

Dan mereka mengharap malam tidak akan pernah berakhir

Tapi toh segala sesuatu ada akhirnya..

Saat itu, mereka sedang menikmati malam di sebuah club…

Dan Itu tadi hanyalah suasana di salah satu club Jakarta.. masih banyak tempat serupa dengan suasana yang sama, bahkan lebih “panas”..

Anda berminat..?

DI MASA MENDATANG, ketika waktu sudah berhenti..

Suasana di sebuah sudut Akhirat..

Ratusan, ribuan, jutaan, bahkan ratusan juta orang berkumpul dalam ruang gelap..

Terdengar suara gemuruh api yang memekakkan telinga

Yang wanita maupun pria memakai baju minim, bahkan nyaris tidak memakai baju

Kulit mereka bersentuhan, akibat sesaknya tempat, menjadikan hawa begitu menyesakkan, tubuh begitu banyak mengeluarkan keringat, sempit dan tidak ada ruang untuk bernafas lega. Mereka tidak menyukainya, tapi saat itu sudah tidak ada pilihan..

Ketika terasa haus, mereka mendapat minuman yang terasa begitu membakar dimulut, dan bahkan benar-benar membakar setiap sentimeter dari bagian tubuh yang terlewati air tersebut..begitu panasnya hingga nyaris hilang kesadaran yang meminumnya..

Minuman yang tidak menghilangkan haus, dan mereka harus terus mereguknya

Ketika suara gemuruh api semakin memekakkan telinga, tangan-tangan tengadah keatas sambil berteriak memohon ampun… kepanasan merasakan setiap jilatan api yang ada..

Suasananya menjadi terasa begitu panas..

Dan mereka berharap ini akan segera berakhir..

Tapi saat itu tidak ada kata akhir….

Saat itu, mereka sedang menjalani siksa di akhirat…

Dan itu hanyalah suasana di salah satu ruangan akhirat, masih banyak ruangan lain di akhirat dengan suasana yang sama, bahkan lebih panas..

Anda masih berminat…?

….Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri.

(QS. Ali Imran:117)

// //
 

Ketika Mas Gagah Pergi 12 Juli 2009

Filed under: Cerpen Islami — hudzaiefha_ciphty @ 8:28 am
Tags: , ,
Oleh : Helvi Tyana Rosa

Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.

Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat.Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.

“Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?”

“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!”

“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?”

Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?

“Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…”Kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!

Itulah Mas Gagah!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…

“Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!” teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!

“Assalaamu’alaikum!”seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.

“Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?” tanyanya.

“Matiin kasetnya!”kataku sewot.

“Lho memangnya kenapa?”

“Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!” aku cemberut.

“Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!”

“Bodo!”

“Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri,” kata Mas Gagah sabar. “Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar.”

“Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!”

“Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…”

“Pokoknya kedengaran!”

“Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!”

“Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!” Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?”

“Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!” begitu kata Mas Gagah.

Oala.

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.

Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya “Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!”

Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!

Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.

“Penampilanmu kok sekarang lain Gah?”

“Lain gimana Ma?”

“Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu…”

Mas Gagah cuma senyum. “Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun.”

Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. “Jadi mirip Pak Gino.” Komentarku menyamakannya dengan supir kami. “Untung aja masih lebih ganteng.”

Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan.

Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?”

“Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?” tegurku suatu hari. “Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!”

“Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu,” dalihnya, lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. “Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!”

Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?”

Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku.”Baca!”

Kubaca keras-keras. “Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim.”

Mas Gagah tersenyum.

“Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…,” kataku.

“Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?” Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. “Coba untuk mengerti ya dik manis?”

Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.

Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.

“Mau kemana Gita?”

“Nonton sama temen-temen.” Kataku sambil mengenakan sepatu.”Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya.”

“Ikut Mas aja yuk!”

“Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!”

Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.

“Assalamualaikum!” terdengar suara beberapa lelaki.
Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.

“Lewat aja nih, Gita nggak dikenalin?”tanyaku iseng.

Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.
Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. “Ssssttt.”

Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh!

“Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!” Seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.

“Ikhwan?’ ulangku. “Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?” Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.

“Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita.” Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. “Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini.”

Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.

“Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham.”

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.

“Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, ” ujar Tika tiba-tiba.

“Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…” kataku jujur. “Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…”

Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin.” Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.

“Mbak Ana?”

“Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.

“Hidayah.”

“Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!”

“Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!” tegurku ramah.

‘Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!” Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.

“Dari rumah Tika, teman sekolah, “jawabku pendek. “Lagi ngapain, Mas?”tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman…

“Cuma lagi baca!”

“Buku apa?”

“Tumben kamu pingin tahu?”

“Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?”desakku.

“Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. “Nih!”serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.

“Naah yaaaa!”aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku “Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam” itu.

“Maaas…”

“Apa Dik Manis?”

“Gita akhwat bukan sih?”

“Memangnya kenapa?”

“Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…” tanyaku manja.

Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.

Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.

“Mas kok nangis?”

“Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit.”

Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…

“Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?” Tanya Mas Gagah tiba-tiba.

“Gita capek marahan sama Mas Gagah!” ujarku sekenanya.

“Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?”

“Tenang aja. Gita ngerti kok!” kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.

Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut.

“Apa nggak bosan, Pa…tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?” tegurku.Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, “Iya deh, iya!”

Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.
Aku nyengir kuda.

Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.
“Nyoba pakai jilbab. Git!” pinta Mas Gagah suatu ketika.
“Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.

Mas Gagah tersenyum. “Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama.”

Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau.

“Gita mau tapi nggak sekarang,” kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.

“Itu bukan halangan.” Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali terpengaruh dengan Mas Gagah.

“Ini hidayah, Gita.” Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.

“Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah.

“Lho! ” Mas Gagah bengong.

Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, “Hei itu kan Mas Gagah-ku!”

Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, “Lho Mas Gagah kok bisa sih?” Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.

Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. “Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, ” kata Mas Gagah.
Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.

Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.
Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.

“Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang.

“Mas Gagah belum pulang. “kata Mama.

“Yaaaaa, kemana sih, Ma??” keluhku.

“Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…”

“Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid. “

“Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini.” Hibur Mama menepis gelisahku.

Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah.

“Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!” Mama tertawa.
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.

Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga.

“Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh..” hibur Mama lagi.

Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.

“Nginap barangkali, Ma.” Duga Papa.

Mama menggeleng. “Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa.”

Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.

“Kriiiinggg!” telpon berdering.

Papa mengangkat telpon,”Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?”

“Ada apa, Pa.” Tanya Mama cemas.

“Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…” suara Papa lemah.

“Mas Gagaaaaahhhh” Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.
Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.

” Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini.” Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.

Mama dengan lebih tenang merangkulku. “Sabar sayang, sabar.”

Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.

“Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?” tanyaku. “Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?” Air mataku terus mengalir.

Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.

“Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…” bisikku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga.”

Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. “Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi..”

“Gita…” suaraku serak menahan tangis.

Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah.” Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.

“Mas…ini Gita Mas..” sapaku berbisik.

Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. “Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya.”

Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.

“Dzikir…Mas.” Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.

“Gi..ta…”
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.

“Gita di sini, Mas…”
Perlahan kelopak matanya terbuka.

“Aku tersenyum.”Gita…udah pakai…jilbab…” kutahan isakku.
Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.

“Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…” ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul.

Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.

Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. “Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas,” kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.

“Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.

Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.

Epilog:

Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.

Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.

Setitik air mataku jatuh lagi.

“Mas, Gita akhwat bukan sih?”

“Ya, insya Allah akhwat!”

“Yang bener?”

“Iya, dik manis!”

“Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!”

“Kok nanya gitu sih?”

“Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?”

“Ganteng kan?”

“Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?” Jihad itu apa sih?”

“Ya always dong, jihad itu…”

Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!

Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,
Dan jadilah muslimah sejati
Agar Allah selalu besertamu.
Sun sayang,
Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!

 

Aksi Rizuki yang Bikin Mata Saya Tak Berkedip 24 Juni 2009

Filed under: Acara Televisi — hudzaiefha_ciphty @ 3:40 pm
Tags: , , ,

RizukiRizukiRizuki merupakan satu-satunya kontestan cewek yang tersisa di Panggung “BEST OF THREE” The Master Season 3. Setelah minggu yang lalu dia muncul dengan pertunjukan yang keren, hmm… mengingatkan saya kepada kandidat Season 1, Romedal. And you know what, until now, I can’t forget her show. Lagi-lagi how come gitu loh! Saya tidak bisa untuk tidak cerita tentang ini, ganti dress dalam sepersekian detik, dan warna dressnya itu disesuaiin sama warna propertinya!!! Waktu ditutup dengan kain biru, warna dressnya ganti jadi biru, tapi yang paling memukau buat saya waktu dia pakai property kaya lingkaran hoolahoop berkain kuning itu dressnya langsung ganti jadi warna kuning, trus yang Paling Super Duper Keren Abis (Bu Guru bahasa jangan marah sama saya yaa..) waktu dia ditaburin kertas-kertas warna putih trus dressnya ganti jadi warna putih and jadi lengan u can see dalam sekejap mata. Just like that. Amazing… Tapi… Di episode ini Rizuki menyuguhkan pertunjukan yang ekstrim! Dia naik ke panggung luar, then mengawali dengan retell kalau di dia mengulangi langkah Angelina menjelaskan kalau dia akan di borgol, masuk ke water chamber yang dikunci tutupnya, but… Master Deddy stopped her. Rizuki disuruh masuk lagi ke panggung dalam. Deddy bilang kalau dia lebih suka aksi Rizuki yang minggu lalu. Terjadilah dialog antara Master Deddy dan Rizuki, kalau saya gambarkan, KIRA-KIRA seperti ini :
Rizuki : “Saya ingin menunjukkan kalau wanita juga bisa melakukan hal yang ekstrim”.
Master Deddy : “Oke. Apa yang akan kamu lakukan dengan property seperti itu?”
Rizuki : “Saya akan terborgol di dalam water chamber terkunci yang dipenuhi air, dan keluar dari sana dalam waktu kurang dari 4 menit.
Master Deddy : “Kamu itu awalnya sudah menjelek-jelekkan kandidat lain. Angelina seorang wanita terikat dalam strait jacket, mestinya kamu menyuguhkan suatu pertunjukan yang lebih luar biasa. Sini, borgolnya bisa saya buka dalam waktu 5 detik.”
Rizuki : “Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan Angelina, saya hanya menceritakan kembali kejadian yang sama terjadi di Season satu ketika seorang kandidat wanita melawan dua orang kandidat laki-laki.”
Master Deddy : “Dan kamu pikir kamu akan lolos?”
Rizuki : (mengangguk)
Master Deddy : “Kalau kamu yakin lolos ke babak final, mestinya kamu menunjukkan sesuatu yang lebih daripada cuma melepaskan diri dari sebuah borgol. Mestinya kamu dirantai, ada lima gembok atau tujuh gitu. Tapi saya yang gembok kamu. Gimana? Sanggup?”
Rizuki : (tidak bawa property)
Master Deddy : “Kalau cuma masalah property, kita punya bagian Properti yang luar biasa, propertinya bisa disiapkan. Kita mau pake apa aja bisa disiapkan,”
Hmm… Rizuki mengangguk menyanggupi. Ada seorang pria berdiri dari tempat duduknya, gelisah dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Dia adalah ayahanda Rizuki yang khawatir akan keselamatan anaknya. Nico Siahaan lalu berkata pada Rizuki, “Kamu harusnya menyanggupi karena kamu mampu, jangan kamu berkata iya karena takut sama Master Deddy, Rizuki.”
And then Master Deddy and the crews membawa Rizuki ke luar, parents Rizuki mengikuti mereka, debated sama Master Deddy. KURANG LEBIH seperti ini :
Ayah Rizuki : “Sebentar, ini.. ini ada penanggungjawabnya nggak?”
Master Deddy : “Maaf ya Pak, bapak ini siapa sebenarnya, saya nggak kenal bapak, yang saya kenal itu Rizuki,”
Ayah Rizuki : “Saya orang tuanya Rizuki. Nanti gimana kalau terjadi apa-apa. Dia itu latihan cuma dengan satu borgol.”
Master Deddy : “Tapi anaknya mau Pak. Maksud saya kalau dia bilang nggak mau, ya hal ini nggak usah dilakukan juga nggak apa-apa. Disana nanti ada penanggungjawabnya. Bapak tunggu aja disini,”
Rizuki menenangkan ayahnya dengan mengatakan bahwa dia bisa.
Rizuki : “Pah, Rizuki bisa pah. Rizuki bisa..”
Ayah Rizuki : “Bener kamu bisa Rizu?”
Rizuki : “He-em.”
Ayah Rizuki : (berkata pada Master Deddy) “Tapi ini saya boleh memantau?”
Master Deddy : “Boleh boleh silakan kalau mau memantau disana,”
Lalu mereka menuju ke panggung 2. Sementara Rizuki bersiap-siap, diborgol, dirantai, digembok 7, Nico Siahaan bilang, “Yah, walaupun orang tua, tahu bahwa anaknya seorang magician, tetap merasa khawatir karena anaknya akan melakukan adegan berbahaya yang tidak diduga sebelumnya.”
Master Deddy meyakinkan Rizuki sekali lagi. Dan seorang pria (maybe penanggungjawab atau apa) bertanya kepada Rizuki tentang isyarat kalau dia nggak kuat. Isyarat itu adalah lambaian tangan. Jika Rizu melambaikan tangannya, kru akan segera memecahkan kacanya. Get it?
Okay, Rizu mulai masuk ke dalam water chamber, dikunci tutupnya, diangkat tirai hitamnya. Dia harus membuka semua borgol an gembok dengan waktu 4 menit. Beberapa detik sekali tirai diturunkan dan diangkat lagi. Dan setelah melewati 2 menit lebih, ayahnya minta agar tirai diturunkan segera. And then… ketika tirai itu diturunkan, audiences tidak melihat sosok Rizu disana. She’s gone! Surprisingly, dia ada di (apa ya namanya) tribun di arah sebaliknya. Ayah Rizuki langsung balik arah, wuzz (kaya di pelm india ). Rizuki melambaikan tangannya tinggi-tinggi di antara penonton!! Amazing! Aksi Rizuki ini bikin saya lupa berkedip. Deg-deg an…
Daan… Rizuki memperoleh polling sms tertinggi, lebih dari 50%. Dalam episode ini, jubah sang avatar, Krisnaji ditarik oleh The Dark Angel.
Tapi, yang saya sebelin dari The Master episode ini adalah Master Deddy… Kebanyakan omomg! Tapi, kalo dia nggak gitu Qta ga akan disuguhi pertunjukan istimewa nni. Tul ga? I think, walaupun dia kebanyakan omong, dia bisa mempertanggungjawabkan omongannya itu. Good.

 

Kekuatan Pikiran Sang Master Mentalist 24 Juni 2009

Filed under: Acara Televisi — hudzaiefha_ciphty @ 2:52 pm
Tags: , ,
Master Mentalist Deddy Cobuzier

Master Mentalist Deddy Cobuzier

Episode The Master Jum’at lalu, 19 Juni 2009, diawali dengan aksi Master Deddy yang wew… antonishing! Dengan kekuatan pikirannya, dia berhasil mengambil / mencakup es batu dari air hangat, saya sampai tidak habis pikir, kok bisaa yaa?? Sebenarnya aksi yang serupa sudah dipertunjukan di acara Master Mentalist, selasa sebelumnya. Mula-mulanya Master Deddy memanggil salah satu penonton ke depan. Disana disediain 2 baskom kaca, sebelah kanan berisi air es batu, sebelah kiri berisi air hangat. Kemudian dia disuruh memasukkan masing-masing tangan ke dalam masing-masing baskom. Ditanya sama Master Deddy, “es batu dingin apa nggak?” so pasti dingin dong! Lalu dia disuruh nutup mata, en memasukkan salah satu tangannya ke baskom yang dingin. Pastinya dia memasukkan tangan kanannya ke baskom sebelah kanan, sementara… baskom itu sudah ditukar posisi… Tapi, ketika dia memasukkan tangannya ke baskom air hangat itu, ditanya sama Master Deddy gimana rasanya, dia bilang dingin. Of course, karena dia beranggapan tangannya masuk ke dalam air es batu. Sama Master Deddy dia disuruh mengambil es batu dari dalam baskom itu. And he did it. Ada beberapa es batu muncul di tangan kanannya. Padahal waktu itu saya lihat waktu tangannya masih dalam baskom, tidak ada es batu sama sekali, tapi es batu itu muncul begitu tangan diangkat di udara… And then Master Deddy did the same thing but in different way, coz dia tidak menutup matanya. Dia hanya berimajinasi kalau air hangat itu adalah air es batu yang sangat dingin. Dia mencelupkan kedua tangannya, and theatrically dia mencakup air itu, and then… secakup es batu ada di tangannya begitu saja ketika dia mengangkat kedua tangannya di udara. Just like that! Wew, it’s amazing I think. I can’t stop thinking about that. How come gitu loh! Pertunjukan ini mengandung pelajaran kehidupan yang sangat berharga. Jika kita menghadapi masalah, sesulit apapun bagi orang lain, pikirkan kalau masalah itu bagi kita mudah. So, we’ll solve the problem easily, as easy as we want!

Cheers…

 

Inilah Saya 18 Juni 2009

Filed under: Saya dan Sekeliling Saya — hudzaiefha_ciphty @ 8:12 am
Tags: ,
Inilah saya

Inilah saya

Hai. . . . Assalmu’alaikum. . .

Saya Hudzaifa Septi, blogger baru disini. Saya adalah anak perempuan 16 tahun yang mempunyai kehidupan yang tidak biasa. Yup, ada banyak hal yang mewarnai hidup saya, Alhamdulillah. .  Ada keluarga yang super unik karena tingkah ade2 yang aneh, trus sahabat-sahabat en teman-teman yang masing-masing punya karakteristik sendiri-sendiri, sehingga pribadi yang 1 berbeda dengan pribadi yang lainnya. Hmm… It looks like Saling Melengkapi, huh?

Bicara tentang keluarga, saya anak pertama dari pasangan Coklat Vannila Haryono Agung Nugroho-Sri Mardiningsih. Knapa disebut pasangan Coklat-Vannila? Hmm… sebetulnya itu cuma sebutan nakal saya, coz ayah saya berkulit coklat tinggi, sebaliknya ibu saya putih pendek… Hmm… Menurut ilmu Biologi, anak-anak merupakan perpaduan ciri-ciri dari orang tua. Eh, ini enggak. Look, kata orang-orang saya mirip sama ibu saya, pokonya saya mewarisi ciri-ciri fisik dominan dari ibu saya. Adik saya Fifiani Nugrahaningtyas mewarisi ciri-ciri fisik dominan dari ayah saya! Jadi, kalau saya ke rumah tetangga, ato kemanaa gtu, orang-orang bilang ke saya, “Wah, persis ibunya!”, dan Anda sudah tau apa yang akan dikatakan orang-orang ke adik saya Fifi, ‘kan? Bahkan Fifi bisa-bisanya lebih tinggi dari saya, padahal kita beda 4 tahun! OMG… Adik saya yang satunya, anak bungsu, laki-laki namanya Romansah Ilham Akbari. Nah, yang ini baru perpadua… Anakya tinggi, sebetulnya putih (kalau dia nggak main di bawah terik matahari tiap hari! Dasar cowok). Trus saya bilang ke ibu, kalo kami punya adik lagi pasti pendek,coklat lagi! Wahaha…

Lanjot! Pertama kali saya menginjak bangku sekolah di TK Pertiwi yang jaraknya cuma 10 meter dari rumah saya. Umur 3 tahun. Gara-garanya saya kepengen kaya Mbak Ambar tetangga saya yang udah cukup umur masuk TK. Akhirnya ibu bilang ke Bu Hartini, guru TK kalau beliau menitipkan saya di TK itu. Waktu itu saya belum dikasih seragam sendiri. Mbak Ambar meninggalkan saya masuk SD dan bertemanlah saya dengan Mbak Indri, 1 tahun lebih tua dari saya. Setahun kemudian saya bingung lagi karena Mbak Indri juga masuk SD tapi saya belum. Tahun ketiga itu barulah saya bertemu dengan teman-teman sebaya saya, yang akhirnya menjadi teman SD saya. Saya masuk SD N Banyuaeng, sampingnya TK Pertiwi. . . Waktu kelas 6 saya pindah ke SD N 2 Klaten, SD kota katanya. Disana saya bertemu dengan teman-teman yang sama sekali baru, lingkungan yang baru, guru-guru baru, kebiasaan baru, jadi saya harus adaptasi. Begitu pula dengan Rangking saya yang juga “adaptasi”, dari kelas 1 sampai 5 saya Rangking 1, kelas 6 nya ditambahin deh angka enol, jadi rangking 10, wahaha. . .

Waah, senangnya waktu itu saya bisa masuk ke SMP Negeri 2 Klaten, atau Espero namanya, salah satu SMP terfavorit di Klaten. Dengan rangking masuk 37 dari 200 an orang saya melangkah ke Ruang A. Disana saya jejeran sama Rizki Setiawati, teman pertama saya di SMP rangkingnya 31. Waktu pembagian kelas saya kebagian Kelas VII A, ada Rizki di situ, tapi saya jejeran sama Ima Cahyani (sampai sekarang sahabat baik), anak desa juga. . .

Woke, lanjut. Saya keterima di SMA N 1 KLATEN, ato namanya Smansa Klaten, SMA terfavorit di Klaten. Saya kebagian kelas XD dan jejeran dengan Pipit (Fitri Fatimah PP), sering kali saya mengunjungi XH, tempat Ima dan sahabat SMP saya yang lain, Insania Chusna Arifah. Sedangkan sahabat saya Lanthika Atyanta sukses keterima di kelas Imersi. Nah, waktu kelas XI, saya “tersesat” di kelas IPA, tepatnya XI IPA 4 dengan absen 20. Tapi yang paling menyenangkan, saya kembali sekelas dengan Ima-Chusna, dan sebagian teman SD saya. Kami tetap menjalin hubungan baik dengan Lanthika.Saya jejeran dengan Sekar Agape. Kami juga dekat dengan Kristianingrum dan Rohmatu. Kelas XI IPA 4 sangaaad rame, coz ada ana-anak yang bakat rame, kaya saya, Sekar, Rani, Lily, Hani, Upik, dll. Wah…. sampai sampai bu Eko bilang “Kalian itu ga cocok jadi kelas IPA 4, cocoknya IPS 4 (padahal kelas IPS cuma ada 3)…

Bicara tentang angka 20, angka dua puluh ini adalah angka favorit saya kali ini. Setelah waktu sd smp angka 11 dan waktu kelas 10 angka 19.

Selain merupakan nomor absen saya di kelas 11 dan kelak di kelas 12, 20 juga merupakan tanggal kelahiran saya, 20 September 1992. Trus, besok di ulang tahun Sweet seventeen saya jatuh pada tanggal 20 September 2009, hari MINGGU,  TEPAT hari pertama Hari Raya Idul Fitri! Ya Allah… senangnya… Bayangin dheuh, ulang tahun dirayakan seluruh umat Muslim di dunia… Wew…

Ok, at least, I just wanna say Welcome to My Blog! Enjoy it! Cheers…

Wassalamu’alaikum….

 

Hello world! 18 Juni 2009

Filed under: Uncategorized — hudzaiefha_ciphty @ 6:49 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.